Tentang
menghadirkan Tuhan, dalam kenyataan sekarang "menghadirkan Tuhan" tak
selalu "sendirian", ini hampir dalam semua hal. Sulit menghadirkan
istilah "Lillahitaala" karena kebanyakan
ia berpeluk mesra dengan kepentingan dan motivasi yang bersifat duniawi semata.
Dari yang benar-benar murni demi Tuhan hingga yang sepenuhnya untuk kepentingan
yang menghadirkan tuhan, bisa juga kombinasi antar keduanya. Sedikit rumit
memang jika mengungkapkan teori ini kedalam dalam penggambaran sederhana,
apalagi mengungkapkan kedalam metodologi ilmiah. Aku merasa terkesan
semena-mena.
Tapi memang, bagaimana sangat terbukanya
peluang-peluang mengahdirkan Tuhan, atas nama Tuhan atau yang sedang trend
adalah membela Tuhan dalam segala
persoalan dimuka bumi ini. Tapi dengan tendensinya masing-masing, yang memang
secara kasap mata akan sulit kita lihat. Ya, bagi beberapa orang tulisanku
terkesan “menuduh” suatu pemikiran, oleh karenanya kita harus selalu kritis
dalam membaca realitas kehidupan, karena doktrinisasi mampu membawa kita
kedalam satu sudut pandang fanatism dan fundamental yaitu "saya paling
benar dan mereka salah".
Berbicara tentang perilaku yang bertuhan,
memang bagi jiwa-jiwa lemah sepertiku terlampau sulit untuk selalu “on track”.
Ya, Tuhan dengan kuasanya adalah hal yang sangat kompleks. Adalah sesuatu yang
tidak mungkin otak dan kemampuan manusia untuk mengungkapan segala kebesaran
dan kekuasaa-Nya. Bahkan mungkin, jika bumi ini mampu berbicara, ia takan
sanggup menggambarkan kebesaan Tuhan. Kita mungkin mampu berbuat kebaikan dan
berfikir bahwa kita ikhlas, tapi hati nurani masih merasa bahwa “hal ini harus
mendapat pengakuan’ atau “ya, aku pasti dapat pahala” atau juga “suatu saat aku
pasti dapat pertolongan juga” dan banyak prasangka-prasangka lain yang sangat
mungkin muncul. Lalu apakah hal tesebut telah masuk dalam kategori ikhlas? Jika
memang definisi ikhlas adalah sesuatu yang sangat murni, suci dan esensial.
Teramat sulit kita untuk menapai titik itu, percayalah.
Lalu manusia yang dengan gagah dan beraninya
menjadi hakim atas segala sesuatu yang orang lain lakukan, apa hakmu? Apa
kemampuanmu? Jujur aku tak tau lagi, apa yang membuat mereka mampu melampaui
batas dan kodratnya sebagai manusia. Seperti, bumi ini merekalah yang ciptakan.
Surga nanti, merekalah yang berhak. Dan diluar mereka, adalah jiwa berdosa, tak
pernah beradab, dan menjadi penikmat neraka kelak. Ya Allah ya Tuhanku, dosa
apa hamba sehingga kau biarkan melihat manusia-manusia semacam itu. Sedangkan,
tidak ada manusia-manusia yang benar-benar suci dari dosa, kecuali adalah
baginda nabi. Lalu bagaimana cara kita untuk dapat berada dalam posisi “karena
Tuhan” ? aku sendiri, tidak tau pasti tentang itu. Yang jelas memang, kita
harus membiasakan diri dalam berperilaku yang selalu beorientasi Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar