Minggu, 04 Februari 2018

MENGHADIRKAN TUHAN



Tentang menghadirkan Tuhan, dalam kenyataan sekarang "menghadirkan Tuhan" tak selalu "sendirian", ini hampir dalam semua hal. Sulit menghadirkan istilah "Lillahitaala" karena kebanyakan ia berpeluk mesra dengan kepentingan dan motivasi yang bersifat duniawi semata. Dari yang benar-benar murni demi Tuhan hingga yang sepenuhnya untuk kepentingan yang menghadirkan tuhan, bisa juga kombinasi antar keduanya. Sedikit rumit memang jika mengungkapkan teori ini kedalam dalam penggambaran sederhana, apalagi mengungkapkan kedalam metodologi ilmiah. Aku merasa terkesan semena-mena. 

Tapi memang, bagaimana sangat terbukanya peluang-peluang mengahdirkan Tuhan, atas nama Tuhan atau yang sedang trend adalah  membela Tuhan dalam segala persoalan dimuka bumi ini. Tapi dengan tendensinya masing-masing, yang memang secara kasap mata akan sulit kita lihat. Ya, bagi beberapa orang tulisanku terkesan “menuduh” suatu pemikiran, oleh karenanya kita harus selalu kritis dalam membaca realitas kehidupan, karena doktrinisasi mampu membawa kita kedalam satu sudut pandang fanatism dan fundamental yaitu "saya paling benar dan mereka salah".

Berbicara tentang perilaku yang bertuhan, memang bagi jiwa-jiwa lemah sepertiku terlampau sulit untuk selalu “on track”. Ya, Tuhan dengan kuasanya adalah hal yang sangat kompleks. Adalah sesuatu yang tidak mungkin otak dan kemampuan manusia untuk mengungkapan segala kebesaran dan kekuasaa-Nya. Bahkan mungkin, jika bumi ini mampu berbicara, ia takan sanggup menggambarkan kebesaan Tuhan. Kita mungkin mampu berbuat kebaikan dan berfikir bahwa kita ikhlas, tapi hati nurani masih merasa bahwa “hal ini harus mendapat pengakuan’ atau “ya, aku pasti dapat pahala” atau juga “suatu saat aku pasti dapat pertolongan juga” dan banyak prasangka-prasangka lain yang sangat mungkin muncul. Lalu apakah hal tesebut telah masuk dalam kategori ikhlas? Jika memang definisi ikhlas adalah sesuatu yang sangat murni, suci dan esensial. Teramat sulit kita untuk menapai titik itu, percayalah.

Lalu  manusia yang dengan gagah dan beraninya menjadi hakim atas segala sesuatu yang orang lain lakukan, apa hakmu? Apa kemampuanmu? Jujur aku tak tau lagi, apa yang membuat mereka mampu melampaui batas dan kodratnya sebagai manusia. Seperti, bumi ini merekalah yang ciptakan. Surga nanti, merekalah yang berhak. Dan diluar mereka, adalah jiwa berdosa, tak pernah beradab, dan menjadi penikmat neraka kelak. Ya Allah ya Tuhanku, dosa apa hamba sehingga kau biarkan melihat manusia-manusia semacam itu. Sedangkan, tidak ada manusia-manusia yang benar-benar suci dari dosa, kecuali adalah baginda nabi. Lalu bagaimana cara kita untuk dapat berada dalam posisi “karena Tuhan” ? aku sendiri, tidak tau pasti tentang itu. Yang jelas memang, kita harus membiasakan diri dalam berperilaku yang selalu beorientasi Tuhan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar