Selasa, 17 November 2015

Histori Dibalik Meletusnya Gunung Tambora

Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik. Tambora terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya. Hal ini meningkatkan ketinggian Tambora sampai 4.300 m[2] yang membuat gunung ini pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung ini. Perlu waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.
Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity IndexLetusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.
Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik.[6] Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan pada tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompeii dari timur.
Akibat letusan tahun 1815, Gunung Tambora membentuk kaldera kering terbesar di Indonesia dan ketinggiannya berkurang dari sekitar 4.000 meter menjadi 2.850 meter hingga sekarang.
Demikian catatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamfford Raffles, tentang letusan Gunung Tambora dalam memoarnya The History of Java.
Raffles menulis ledakan tersebut sempat disangka meriam yang menyerang pasukan di Yogyakarta. Pada 6 April, sinar matahari tertutup dan ‘hujan abu’ dalam jumlah kecil pun mulai menyelimuti Sulawesi dan Gresik di Jawa Timur.
Catatan tentang letusan Gunung Tambora juga tercantum pada naskah kuno Kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai.
Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah krisik batu dan habu seperti dituang lamanya tiga hari dua malam,” sebut naskah kuno itu sebagaimana dibacakan ahli filologi Siti Maryam Salahuddin, 88 tahun, yang merupakan putri Sultan Bima terakhir, Muhamad Salahuddin.
Berdasarkan laporan Letnan Owen Philips, selaku utusan Raffles, Raja Sanggar masih hidup dan menjadi saksi peristiwa tersebut.
“Sekitar pukul 7 malam tanggal 10 April terlihat tiga bola api besar keluar dari Gunung Tomboro. Kemudian tiga bola api itu bergabung di udara dalam satu ledakan dahsyat” demikian keterangan Raja Sanggar.

'Tahun tanpa musim panas'

Catatan berbagai saksi mata dan hasil analisis para ahli semakin menegaskan bahwa letusan Gunung Tambora pada 1815 merupakan yang terbesar dalam catatan sejarah modern.
Material vulkanis yang dikeluarkan saat Gunung Tambora meletus mencapai lebih dari 100km kubik atau 100 milliar meter kubik, sedangkan Gunung Merapi 'hanya' memuntahkan 150 juta meter kubik.
“Volcanic Eruption Index Tambora skala 7. Itu yang terbesar dan baru pertama terjadi pada sejarah modern. Sementara Merapi mencapai skala 4,” jelas Surono.
Dampaknya sangat luas. Aerosol sulfat yang dikeluarkan oleh letusan Tambora tertahan di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari ke bumi. Setahun kemudian, gelap masih menyelimuti Benua Eropa pada musim panas. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai 'Tahun tanpa musim panas'.
Letusan tersebut juga menyebabkan ketinggian Gunung Tambora menyusut hampir separuhnya menjadi 2.700 meter dari permukaan laut (mdpl)

Kelaparan

Imbas letusan Gunung Tambora kepada nyawa manusia jauh lebih dahsyat. Dalam laporan kepada Raffles, Letnan Owen Philips menjelaskan kondisi Pulau Sumbawa dan Dompu yang melewati sebagian wilayah Bima. Sebagian besar wilayah Kerajaan Sanggar yang terletak di kaki Gunung Tambora turut hancur.
“Bencana terbesar yang dialami penduduk sangat mengerikan untuk dikisahkan. Mayat-mayat masih bergelimpangan di tepi jalan dan di beberapa perkampungan tersapu bersih, rumah rumah hancur, penduduk yang masih hidup menderita kelaparan,” tulis Phillips.
Sejumlah catatan menyebutkan material vulkanis dari Gunung Tambora juga menyebabkan gagal panen di Pulau Tambora dan Pulau Bali. Akibatnya, sebanyak 100 ribu jiwa meninggal di wilayah sekitar Pulau Sumbawa dan 200.000 jiwa secara global.
Situasi setelah letusan digambarkan dalam naskah kuno Kerajaan Bima yang ditulis pada 1815.
"Maka heran sekalian hambanya, melihat karunia Rabbal’alamin yang melakukan al-Fa’alu-I-Lima Yurid ( Apa yang dikehendakiNya), maka teranglah hari maka melihat rumah dan tanaman maka rusak semuanya demikianlah adanya, yaitu pecah gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad."
Image caption Temuan kerangka dan sisa bangunan rumah yang diyakini merupakan Kerajaan Tambora.

Ancaman bencana

Ahli geologi dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo, yang terlibat dalam penelitian bersama Haraldur Sigurdsson dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, pada 2007, menemukan kerangka manusia di Dusun Oi Bura yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kejadian saat letusan Gunung Tambora.
“Kerangka yang kita jumpai masih bertahan di tempat pada saat terjadi letusan utama. Mereka kebetulan jatuh masih di bawah rumah sendiri, tertimbun rumahnya sendiri. Mungkin juga pada saat itu hujan karena kita temui endapan lumpur. Jadi diperkirakan dia jatuh di dalam lumpur karena di bagian bawahnya itu utuh dalam artian tidak terbakar,” jelas Indyo.
Dari temuan itu, diduga penduduk di kaki Gunung Tambora ketika itu tidak mengenal ancaman gunung berapi.
Selain Tambora, gunung berapi lain di wilayah Indonesia yang tercatat sebagai letusan besar dalam sejarah modern yaitu Krakatau pada 1883, meski kedahsyatannya di bawah Tambora.
Penelitian internasional pada 2003 menemukan jejak letusan Gunung Samalas di Lombok NTB yang terjadi pada tahun 1257 berupa abu kimia yang terdapat di Arktik Kutub Utara dan Antartika.
Struktur awal gunung purba ini menyisakan kawah besar yang kini lebih dikenal dengan nama Danau Segara Anak. Gunung Purba lain yang meletus pada 74.000 tahun lalu adalah Toba yang menyisakan kawah berupa danau dengan panjang 100 km dan lebar 30 km.
Di Indonesia terdapat 127 gunung berapi, 69 diantaranya dipantau karena pernah meletus sekali sejak 1600 an. Sekitar empat juta orang tinggal di sekitar gunung-gunung berapi tersebut.
Kepala Badan Geologi Surono mengatakan keberadaan gunung berapi tidak hanya memberikan tanah yang subur dan potensi wisata, tetapi juga memunculkan pentingnya edukasi tentang potensi ancaman sebagai upaya untuk pengurangan risiko bencana.

sumber 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar