PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
16 September 2015 adalah awal
perjalanan pendakian saya dan teman-teman, yaitu Imam, Sepri dan Sangiang. Kali ini
gunung Slamet jadi pilihan kami berempat. Selesai Saya menjemput Imam, Sepri
dan Sangiang di pom bensin Randudongkal. Setelah sampi dirumah, saya langsung
ajak mereka sarapan pagi. Selesai sarapan dan minum kopi kami langsung packing
ulang peralatan pendakian, satu persatu perlatan dan logistik kami cek ulang.
setelah kami rasa semuanya telah siap pukul 09.30 kami berangkat ke basecamp,
satu setengah jam perjalanan kami sampai di basecamp Bambangan. Selesai
persiapan ulang kami lakukan saya langsung pimpin doa, karena berdoa adalah
agenda wajib kami sebelum melakukan kegiatan apapun, 11.30 kami putuskan mulai
pendakian. Perkebunan yang hijau dan sapaan ramah warga setempat menjadi
penambah energi tersendiri bagi kami siang itu. Nyanyian “si Budi kecil kuyup
menggigil” dengan logat ngapak khas saya menjadi bahan banyolan. Entah apa
salah suara merduku, kayanya mereka amat bahagia pas Imam meniru logat
ngapakku, entahlah. Sekitar 30 menit perjalanan kami putuskan istirahat, makan
buah, snack dan solat dzuhur, 12.30 kami mulai jalan lagi. 10 menit perjalanan
kami tiba di lapangan yang menjadi patokan awal perjalanan pendakian gn.
Slamet, di titik inilah jalanan mulai dengan trek nanjak dan berdebu tebal,
sesekali kami istirahat sekedar menghela nafas mengumpulkan tenaga. Pohon
cemara dan kabut tipis jadi pemandangan kami siang itu. Pukul 14.00 kami tiba di pos
1 (Pondok Gembirung) kami istirahat, kami bertemu dengan rombongan ekspedisi 20
gunung dari Makasar, ngobrol sebentar berkenalan dan sedikit bercerita tentang
perjalanan mereka sejauh ini. 14.10 kami lanjutkan perjalanan.
Pohon-pohon besar semak rindang serta
nyanyian burung menemani kita sepanjang perjalan dari pos 1 ke pos 2. Trek
nanjak curam sangat menguras tenaga kami. sekitar 10 menit kami jalan kami
istirahat lagi, sekedar mebasahi tenggorokan, tak sampai 1 menit kami lanjutkan
perjalanan. Pukul 14.45 kami sampai dipos 2 (pondok walang), karena kami pikir waktu
sudah sore kami putuskan tidak berlama-lama di pos 2 (Pondok Walang). Perjalanan
pos 2 (Pondok Walang) ke pos 3 (Cemara) medan tambah berat, tanjakan curam, akar
pohon melintang di jalan serta bebatuan yang tetimbun debu. Sesekali saya jatuh
terpeleset batuan itu. Teriakan “Break!” tak terhitung banyaknya kami ucapkan.
Ditengah antara pos 2 (Pondok Walang) dan 3 (Cemara) kami berhenti, bertemu
pendaki asal Pemalang saya ngobrol sebentar sharing keadaan diatas alhamdulillah
infonya bagus, pukul 15.30 kami lanjutkan perjalanan. Tenaga kami mulai banyak
terkuras jalanpun melambat. Perut saya
terasa sakit sekali, mungkin karena kondisi perut kosong. Cuaca sore itu
sedikit mendung, “mungkin pos 3 tidak jauh lagi, lanjutin aja lah tahan sakit
sedikit” pikir saya waktu itu. Sakit perut terasa betambah, perjalanan terasa
semakin berat dan dugaan ternyata meleset, pukul 16.30 kita baru sampai di pos 3
(cemara). Langsung saya buka carrier dan keluarkan alat masak, dengan cekatan
Imam yang memang paling berpengalaman masak diantara kami berempat.
Sepri,Sangiang dan Imam duduk mengeliingi kompor. Selesai solat ashar saya
bergantian dengan Imam gabung dengan Sepri dan Sangiang. Disaat seperti ini
tempe goreng, nugget dan caos jadi menu santap sore yang sangat spesial,
pikirku. Dengan 2 piring kami makan bersama, saya dengan Imam dan Sepri dengan
Sangiang. Inilah nilai lebih dari kebersamaan, hal sesederhana apapun akan
berarti lebih jika kita lakukan bersama. Tak lupa candaan kering dan kocak sedikit
membuat kami semua lupa bahwa kami sedang berada di gunung. Kembali imam
bernyanyi “si budi kecil kuyup menggigil” kesal senang lucu bercampur aduk,
Sepri Sangiang tertawa lepas.
Suhu udara semakin dingin kami
mengganti pakaian masing-masing dengan bahan yang lebih tebal. Adzan magrib
berkumandang saya dan imam solat magrib. Sebelum melanjutkan perjalanan Pukul 18.30
saya pimpin breafing, saya ingatkan didepan kita akan jumpai pos 4 (samaranthu)
saya katakan “jangan ada sugest apapun, semua pos sama tetap santai ngobrol,
Jangan sampai ada sugest.”, saya pimpin doa dan pukul 18.40 kita jalan kembali.
Perjalanan malam terasa lebih ringan tidak cepat haus disisi lain kadar oksigen
menipis yang membuat kami cepat engap. Beberapa menit berjalan kami masih bias
bercanda ngobrol-ngobrol ringan, tapi perjalanan malam juga kurang menarik
karena tak ada pemandangan yang bisa kami lihat, hanya semak gelap dan suara khas
hewan malam hari. Tak terasa 45 menit kami berjalan sampai di pos 4 (samaranthu)
karena jarak kami agak jauh saya sedikit teriak “pos 4 cong, semangat”. Setelah
rombongan kumpul saya putuskan untuk langsung berjalan dan tidak beristirahat
di pos ini. Perjalan makin berat karena suhu udara semakin dingin, fisik
masing-masing dari kamipun mulai menurun. Semakin sering kami beristirahat,
jalan kami semakin melambat. Pukul 19.50 kami sampai di pos 5 (samhyang rangkah),
disini sepi tidak ada pendaki sama sekali. Saya dan imam berdiskusi, akan
ngecamp atau sesuai rencana awal ngecamp di pos 7 (Pondok Kendil). Saya tanyakan
sangiang dan sepri mereka setuju kita lanjutkan perjalanan dan akan ngecamp di
pos 7 (Pondok Kendil).
Jam 20.00 kami lanjutkan perjalanan.
mungkin karena kami beristirahat terlalu lama, baru beberapa langkah nafas kami
terengah-terengah. “si budi kecil kuyup menggigil” keluar dari mulut imam,
tanpa komando kami semua tertawa, kupikir ini cara mereka membakar semangat.
Perjalanan sedikit terasa ringan tak terasa 20.35 kami sampai di pos 6
(Samhyang Jampang). Setelah cukup mengumpulkan tenaga kembali kami mulai
perjalanan, trek terasa semakin berat dan
fisik kami semakin drop. Ditengah jalan antara pos 6 (Samhyang Jampang)
dan pos 7 (Pondok Kendil) saya menemukan jejak hewan, seperti jejak kucing tapi
lebih besar ukuranya, sambil istirahat kami berdiskusi. Saya berfikir ini bukan
jejak babi hutan, Imam dan Sepri pun sependapat dengan saya kecuali Sangiang.
Imam yakinkan pada kami semua pasti akan baik-baik saja. Sedikit tegang saya
masih memimpin pendakian ini. 20 menit jejak itu masih saya temukan disitu saya
mulai sering berhenti, ragu sedikit takut. Akhirnya saya dan imam bertukar
posisi, saya sweeper dan imam jadi leader. Terasa berat dan lama sekali
perjalanan, Sangiang drop. Satu dua tiga lngkah berhenti perjalanan jadi sangat
lamban. lama-kelamaan saya juga mulai drop, beban carrier terasa semakin berat.
Sesekali saya merasa pusing dan pandangan sedikit kabur. Akhirya saya ajak Sepri
untuk sedikit lebih lama break, Imam dan Sangian jalan terlebih dahulu. Jam
21.50 akhirnya kami sampai di pos 7 (Samhyang Kendil). Kami bertemu rombongan
dari Jakarta, Pekalongan dan Purbalingga. Disini saya dan imam sedikit crash,
saya bersikeras walaupun kita didalam selther tetap mendirikan tenda tapi imam
sebaliknya. Mungkin karena kami sama-sama kecapaian jadi keluar egoisme masing-masing.
Tapi benar juga pendapat imam, kurang bijak jika didalam shelter kita dirikan
tenda, kasihan nanti jika ada pendaki lain. Setelah suasana mulai mencair
dengan tugas masing-masing kami langsung mulai memasak. Malam itu sayur sop
hambar dan tempe goreng terasa sedap sekali. Selesai makan tanpa komando kami
langsung gelar matras dan sleeping bag, lalu terlelap tidur.
04.00 saya terbangun oleh teriakan
abang rombongan dari Jakarta, “ ayo mas summit, ayo bangun” saya bangunkan
Imam, Sepri dan Sangiang. Karena kami lelet prepare akhirnya 3 rombongan lain
summit terlebih dahulu. Setelah semua siap pukul 04.30 kami keluar shelter,
Imam memimpin doa dan kami mulai summit attack. Baru 3 langkah saya berjalan
nyanyian menyebalkan kembali terdengar “Si Budi kecil kuyup menggigil” sontak
sangiang tertawa, sepri hanya tersenyum. Dengan tertawa saya katakan “baru aja
gue jalan 3 langkah lu udah nyanyi begitu, bikinn males aja lu mam” dia sambut
dengan terbahak. Tak lama kami berjalan sampai di pos 8 yaitu pos batas
vegetasi. Sembari mengumpulkan tenaga sejenak kami duduk melihat sang surya
yang mulai menampakan keindahanya. Selang beberapa menit komando leader
menyuruh kami mulai jalan lagi. Masih dengan trek debu dan tanjakan curam,
sampailah kami di pos 9 (Pelawangan). Didepan mata terlihat medan trek yang
sebenarnya. Batuan cadas, kerikil kecil, debu tebal, dan tingkat kemiringan
yang membuat kulit dahi kami mengkerut. Sedikit kesulitan,kami harus berjalan
sambil memilih trek karena tidak ada jalur yang jelas kabarnya ini efek dari
erupsi kemarin. Terkadang saya pun harus jalan merangkak, Seperempat bagian kami
jalan, fisik sangiang kembali drop, saya tanyakan apakah dia masih kuat, dia
jawab masih. Dititik ini sang surya benar-benar menunjukan keindahanya, tanpa
komando kami semua duduk termenung melihat keindahan luar biasa yang memang
jarang kami jumpai. Dengan otomatis saya keluarkan senjata untuk mengabadikan
momen ini.
Setelah semua merasa puas menikmati keindahan sunrise kami
lanjutkan summit attack. Setengah jam kami berjalan sangiang kembali drop. Saya
kembali bertanya pada Sangiang, “lu serius masih kuat cong?” dengah nafas
terengah dia menjawab “iya mang siap gua”. tapi tidak lama kami jalan Sangiang kembali drop, saya berhenti menemani Sangiang. tiba-tiba saya dengar teriakan "puncak!!!", ternyata Sepri sudah sampai terlebih dahulu. Rasa semangat,lelah,terharu dan
bersyukur bercampur aduk membuat saya berjalan cepat. Pukul 06.30 kami sampai
di puncak gunung Slamet 3428 mdpl, kecuali sangiang yang terlihat tertidur di
trek berjarak 10m dari kami bertiga.
Puas menikmati keindahan puncak
gunung Slamet, pukul 10.00 kami turun, perjalanan turun lebih cepat akan tetapi
lebih menguras tenaga. Pukul 11.00 kami sampai di pos 7 (Pondok Kendil) , kami semua dan tertidur cukup lama. Selesai makan dan packing ulang pukul 14.30 kami mulai perjalanan turun. Karena kami turun
dengan sedikit lari, perjalanan singkat sekali, antara pos 7 (Pondok Kendil)
sampai pos 2 (pondok walang) hanya 2 jam. Karena kondisi fisik saya kurang
bagus saya minta untuk perjalnan selanjuty dengan perjalana turun seperti
biasa. 17.00 kami lanjutkan perjalanan dan pukul 18.00 kami sampai di pos 1.
Karena jarak pos 1 sampai ke basecamp adalah trek terjauh dan kami semua merasa
lelah perjalanan dari pos ke basecamp lama sekali. Dengan lari dan berteriak
pukul 20.00 kami sampai ke basecamp Bambangan dengan selamat dan sehat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar