Kamis, 29 Oktober 2015

CATATAN SI MBADUNG







PENDAKIAN GUNUNG SLAMET
 
 
 
 





16 September 2015 adalah awal perjalanan pendakian saya dan teman-teman, yaitu Imam, Sepri dan Sangiang. Kali ini gunung Slamet jadi pilihan kami berempat. Selesai Saya menjemput Imam, Sepri dan Sangiang di pom bensin Randudongkal. Setelah sampi dirumah, saya langsung ajak mereka sarapan pagi. Selesai sarapan dan minum kopi kami langsung packing ulang peralatan pendakian, satu persatu perlatan dan logistik kami cek ulang. setelah kami rasa semuanya telah siap pukul 09.30 kami berangkat ke basecamp, satu setengah jam perjalanan kami sampai di basecamp Bambangan. Selesai persiapan ulang kami lakukan saya langsung pimpin doa, karena berdoa adalah agenda wajib kami sebelum melakukan kegiatan apapun, 11.30 kami putuskan mulai pendakian. Perkebunan yang hijau dan sapaan ramah warga setempat menjadi penambah energi tersendiri bagi kami siang itu. Nyanyian “si Budi kecil kuyup menggigil” dengan logat ngapak khas saya menjadi bahan banyolan. Entah apa salah suara merduku, kayanya mereka amat bahagia pas Imam meniru logat ngapakku, entahlah. Sekitar 30 menit perjalanan kami putuskan istirahat, makan buah, snack dan solat dzuhur, 12.30 kami mulai jalan lagi. 10 menit perjalanan kami tiba di lapangan yang menjadi patokan awal perjalanan pendakian gn. Slamet, di titik inilah jalanan mulai dengan trek nanjak dan berdebu tebal, sesekali kami istirahat sekedar menghela nafas mengumpulkan tenaga. Pohon cemara dan kabut tipis jadi pemandangan kami siang itu. Pukul 14.00 kami tiba di pos 1 (Pondok Gembirung) kami istirahat, kami bertemu dengan rombongan ekspedisi 20 gunung dari Makasar, ngobrol sebentar berkenalan dan sedikit bercerita tentang perjalanan mereka sejauh ini. 14.10 kami lanjutkan perjalanan.

Pohon-pohon besar semak rindang serta nyanyian burung menemani kita sepanjang perjalan dari pos 1 ke pos 2. Trek nanjak curam sangat menguras tenaga kami. sekitar 10 menit kami jalan kami istirahat lagi, sekedar mebasahi tenggorokan, tak sampai 1 menit kami lanjutkan perjalanan. Pukul 14.45 kami sampai dipos 2 (pondok walang), karena kami pikir waktu sudah sore kami putuskan tidak berlama-lama di pos 2 (Pondok Walang). Perjalanan pos 2 (Pondok Walang) ke pos 3 (Cemara) medan tambah berat, tanjakan curam, akar pohon melintang di jalan serta bebatuan yang tetimbun debu. Sesekali saya jatuh terpeleset batuan itu. Teriakan “Break!” tak terhitung banyaknya kami ucapkan. Ditengah antara pos 2 (Pondok Walang) dan 3 (Cemara) kami berhenti, bertemu pendaki asal Pemalang saya ngobrol sebentar sharing keadaan diatas alhamdulillah infonya bagus, pukul 15.30 kami lanjutkan perjalanan. Tenaga kami mulai banyak terkuras  jalanpun melambat. Perut saya terasa sakit sekali, mungkin karena kondisi perut kosong. Cuaca sore itu sedikit mendung, “mungkin pos 3 tidak jauh lagi, lanjutin aja lah tahan sakit sedikit” pikir saya waktu itu. Sakit perut terasa betambah, perjalanan terasa semakin berat dan dugaan ternyata meleset, pukul 16.30 kita baru sampai di pos 3 (cemara). Langsung saya buka carrier dan keluarkan alat masak, dengan cekatan Imam yang memang paling berpengalaman masak diantara kami berempat. Sepri,Sangiang dan Imam duduk mengeliingi kompor. Selesai solat ashar saya bergantian dengan Imam gabung dengan Sepri dan Sangiang. Disaat seperti ini tempe goreng, nugget dan caos jadi menu santap sore yang sangat spesial, pikirku. Dengan 2 piring kami makan bersama, saya dengan Imam dan Sepri dengan Sangiang. Inilah nilai lebih dari kebersamaan, hal sesederhana apapun akan berarti lebih jika kita lakukan bersama. Tak lupa candaan kering dan kocak sedikit membuat kami semua lupa bahwa kami sedang berada di gunung. Kembali imam bernyanyi “si budi kecil kuyup menggigil” kesal senang lucu bercampur aduk, Sepri Sangiang tertawa lepas.

Suhu udara semakin dingin kami mengganti pakaian masing-masing dengan bahan yang lebih tebal. Adzan magrib berkumandang saya dan imam solat magrib. Sebelum melanjutkan perjalanan Pukul 18.30 saya pimpin breafing, saya ingatkan didepan kita akan jumpai pos 4 (samaranthu) saya katakan “jangan ada sugest apapun, semua pos sama tetap santai ngobrol, Jangan sampai ada sugest.”, saya pimpin doa dan pukul 18.40 kita jalan kembali. Perjalanan malam terasa lebih ringan tidak cepat haus disisi lain kadar oksigen menipis yang membuat kami cepat engap. Beberapa menit berjalan kami masih bias bercanda ngobrol-ngobrol ringan, tapi perjalanan malam juga kurang menarik karena tak ada pemandangan yang bisa kami lihat, hanya semak gelap dan suara khas hewan malam hari. Tak terasa 45 menit kami berjalan sampai di pos 4 (samaranthu) karena jarak kami agak jauh saya sedikit teriak “pos 4 cong, semangat”. Setelah rombongan kumpul saya putuskan untuk langsung berjalan dan tidak beristirahat di pos ini. Perjalan makin berat karena suhu udara semakin dingin, fisik masing-masing dari kamipun mulai menurun. Semakin sering kami beristirahat, jalan kami semakin melambat. Pukul 19.50 kami sampai di pos 5 (samhyang rangkah), disini sepi tidak ada pendaki sama sekali. Saya dan imam berdiskusi, akan ngecamp atau sesuai rencana awal ngecamp di pos 7 (Pondok Kendil). Saya tanyakan sangiang dan sepri mereka setuju kita lanjutkan perjalanan dan akan ngecamp di pos 7 (Pondok Kendil).

Jam 20.00 kami lanjutkan perjalanan. mungkin karena kami beristirahat terlalu lama, baru beberapa langkah nafas kami terengah-terengah. “si budi kecil kuyup menggigil” keluar dari mulut imam, tanpa komando kami semua tertawa, kupikir ini cara mereka membakar semangat. Perjalanan sedikit terasa ringan tak terasa 20.35 kami sampai di pos 6 (Samhyang Jampang). Setelah cukup mengumpulkan tenaga kembali kami mulai perjalanan, trek terasa semakin berat dan  fisik kami semakin drop. Ditengah jalan antara pos 6 (Samhyang Jampang) dan pos 7 (Pondok Kendil) saya menemukan jejak hewan, seperti jejak kucing tapi lebih besar ukuranya, sambil istirahat kami berdiskusi. Saya berfikir ini bukan jejak babi hutan, Imam dan Sepri pun sependapat dengan saya kecuali Sangiang. Imam yakinkan pada kami semua pasti akan baik-baik saja. Sedikit tegang saya masih memimpin pendakian ini. 20 menit jejak itu masih saya temukan disitu saya mulai sering berhenti, ragu sedikit takut. Akhirnya saya dan imam bertukar posisi, saya sweeper dan imam jadi leader. Terasa berat dan lama sekali perjalanan, Sangiang drop. Satu dua tiga lngkah berhenti perjalanan jadi sangat lamban. lama-kelamaan saya juga mulai drop, beban carrier terasa semakin berat. Sesekali saya merasa pusing dan pandangan sedikit kabur. Akhirya saya ajak Sepri untuk sedikit lebih lama break, Imam dan Sangian jalan terlebih dahulu. Jam 21.50 akhirnya kami sampai di pos 7 (Samhyang Kendil). Kami bertemu rombongan dari Jakarta, Pekalongan dan Purbalingga. Disini saya dan imam sedikit crash, saya bersikeras walaupun kita didalam selther tetap mendirikan tenda tapi imam sebaliknya. Mungkin karena kami sama-sama kecapaian jadi keluar egoisme masing-masing. Tapi benar juga pendapat imam, kurang bijak jika didalam shelter kita dirikan tenda, kasihan nanti jika ada pendaki lain. Setelah suasana mulai mencair dengan tugas masing-masing kami langsung mulai memasak. Malam itu sayur sop hambar dan tempe goreng terasa sedap sekali. Selesai makan tanpa komando kami langsung gelar matras dan sleeping bag, lalu terlelap tidur.

04.00 saya terbangun oleh teriakan abang rombongan dari Jakarta, “ ayo mas summit, ayo bangun” saya bangunkan Imam, Sepri dan Sangiang. Karena kami lelet prepare akhirnya 3 rombongan lain summit terlebih dahulu. Setelah semua siap pukul 04.30 kami keluar shelter, Imam memimpin doa dan kami mulai summit attack. Baru 3 langkah saya berjalan nyanyian menyebalkan kembali terdengar “Si Budi kecil kuyup menggigil” sontak sangiang tertawa, sepri hanya tersenyum. Dengan tertawa saya katakan “baru aja gue jalan 3 langkah lu udah nyanyi begitu, bikinn males aja lu mam” dia sambut dengan terbahak. Tak lama kami berjalan sampai di pos 8 yaitu pos batas vegetasi. Sembari mengumpulkan tenaga sejenak kami duduk melihat sang surya yang mulai menampakan keindahanya. Selang beberapa menit komando leader menyuruh kami mulai jalan lagi. Masih dengan trek debu dan tanjakan curam, sampailah kami di pos 9 (Pelawangan). Didepan mata terlihat medan trek yang sebenarnya. Batuan cadas, kerikil kecil, debu tebal, dan tingkat kemiringan yang membuat kulit dahi kami mengkerut. Sedikit kesulitan,kami harus berjalan sambil memilih trek karena tidak ada jalur yang jelas kabarnya ini efek dari erupsi kemarin. Terkadang saya pun harus jalan merangkak, Seperempat bagian kami jalan, fisik sangiang kembali drop, saya tanyakan apakah dia masih kuat, dia jawab masih. Dititik ini sang surya benar-benar menunjukan keindahanya, tanpa komando kami semua duduk termenung melihat keindahan luar biasa yang memang jarang kami jumpai. Dengan otomatis saya keluarkan senjata untuk mengabadikan momen ini.










Setelah semua merasa puas menikmati keindahan sunrise kami lanjutkan summit attack. Setengah jam kami berjalan sangiang kembali drop. Saya kembali bertanya pada Sangiang, “lu serius masih kuat cong?” dengah nafas terengah dia menjawab “iya mang siap gua”. tapi tidak lama kami jalan Sangiang kembali drop, saya berhenti menemani Sangiang. tiba-tiba saya dengar teriakan "puncak!!!", ternyata Sepri sudah sampai terlebih dahulu. Rasa semangat,lelah,terharu dan bersyukur bercampur aduk membuat saya berjalan cepat. Pukul 06.30 kami sampai di puncak gunung Slamet 3428 mdpl, kecuali sangiang yang terlihat tertidur di trek berjarak 10m dari kami bertiga.


Puas menikmati keindahan puncak gunung Slamet, pukul 10.00 kami turun, perjalanan turun lebih cepat akan tetapi lebih menguras tenaga. Pukul 11.00 kami sampai di pos 7 (Pondok Kendil) , kami semua dan tertidur cukup lama. Selesai makan dan packing ulang pukul 14.30 kami  mulai perjalanan turun. Karena kami turun dengan sedikit lari, perjalanan singkat sekali, antara pos 7 (Pondok Kendil) sampai pos 2 (pondok walang) hanya 2 jam. Karena kondisi fisik saya kurang bagus saya minta untuk perjalnan selanjuty dengan perjalana turun seperti biasa. 17.00 kami lanjutkan perjalanan dan pukul 18.00 kami sampai di pos 1. Karena jarak pos 1 sampai ke basecamp adalah trek terjauh dan kami semua merasa lelah perjalanan dari pos ke basecamp lama sekali. Dengan lari dan berteriak pukul 20.00 kami sampai ke basecamp Bambangan dengan selamat dan sehat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar